Sabtu, 19 Desember 2015

Cerita Menjadi Apoteker Untuk Masyarakat


(sumber gambar : www.prodirector.net)


Happy weekend guys !!

Siapa Apoteker ?

Mumpung weekend dan mengisi waktu luang pengin banget nulis sesuatu tentang profesi apoteker. Mungkin banyak yang masih belum tahu sedalam-dalamnya apoteker itu ngapain aja ya selain di apotek ? Bahkan sampai sekarang akupun menyadari kalo apoteker itu tugasnya segudang dari hulu sampai hilir. Mulai dari awal mau nyari obat/neliti obat, trus diproduksi di industri, sampai nanti mendampingi pasien dan masyarakat luas untuk menggunakan obat dengan baik dan benar (tentunya dengan kolaborasi bersama dokter). Di tulisan lain aku pernah berbagi cerita tentang pengalaman internship di sebuah industri farmasi besar di Indonesia. Untuk tulisannya bisa dicek di link berikut :
http://adina-twins.blogspot.com/2015/09/mencicipi-dunia-industri-farmasi.html. Nah jadi kali ini aku ingin berbagi cerita di bagian  hilir aja ya, yaitu pelayanan atau pengabdian.

Hal apa saja yang berkesan ketika menjadi Apoteker ?

Sebenarnya pengabdian /pelayanan bukan pertama kali aku alami. Aku pernah mencicipi pengabdian pelayanan farmasi beberapa kesempatan seperti kkn, jaga klinik sukarela dan ada yang terakhir jadi petugas jaga di zona kesehatan taman pintar. Dan kebetulan di kesempatan aku yang terakhir ini aku dapet bagian menjadi konselor untuk pasien-pasien yang melakukan pemeriksaan darah (gula darah) di tempat tersebut. Aku merasa pengalaman ini cukup berkesan dan memotivasiku untuk terus belajar lagi. Apalagi praktek konseling yang terakhir ini juga lebih intens dan durasi waktu lebih lama. Beda dengan pas aku jaga di klinik hehe. Ya mungkin karena di klinik pasiennya banyak jadi pas menyerahkan obat belum sampe ke konseling banget. Masih sebatas hal-hal penting tentang pio (pemberian informasi obat) hehe. Yah tapi sebenernya itu cukup dan sangat melatih skill juga si. Banyak banget pelajaran dan hal-hal berkesan lain yang aku dapat ketika terjun menjadi farmasis di bagian hilir.

1. Belajar menjadi pendengar yang baik
    Menjadi apoteker harus bisa menjadi pendengar yang baik buat pasiennya. Dengarkan dahulu apa yang menjadi masalah dan dikeluhkan oleh pasien. Selain itu dengan cara ini kita jadi bisa tahu seberapa jauh pengetahuan pasien agar nantinya tidak ada miskom antara kita dan pasien. Kita juga tidak boleh melebih-lebihkan posisi kita dibanding pasien. Menjadikan pasien sebagai teman ngobrol dan teman untuk memecahkan masalah bersama memang perlu dilatih.

2. Belajar untuk lebih sabar
    Banyak banget tipe-tipe pasien dengan karakter yang beda-beda. Ada yang buru-buru pengin cepet balik, bahkan di tengah-tengah konseling keluar ngacir karena dipanggil temennya (kalo yang ini tipe anak gaul / masih muda biasanya). Ada juga yang serius pengin tau banyak hal sampe nanya tentang interaksi obat (kayak praktikum komdis T_T), tanya tentang cara diet/mengecilkan perut, dan masih banyak hal-hal detail yang pengin pasien tanyain. Bahkan ada juga pasien yang ceritanya sampe ngalor ngidul tentang anaknya, keluarganya sampe ngga kerasa waktunya. Yah yang sabar aja ya :)

3. Belajar berkomunikasi dengan bahasa umum
   Nah kalo yang ini emang harus sering dilatih. Terkadang di perkuliahan kita lebih sering membaca jurnal, materi-materi dosen dengan banyak istilah asing, bahasa planet, dan bahasa tingkat tinggi (hihi). Saat konseling nanti kita perlu mencoba mentranslatenya ke dalam bahasa yang gampang dimengerti oleh pasien.

4. Belajar menjaga privasi pasien
    Kalo ini ada kaitannya dengan patient medication record. Jadi hanya pasien dan petugas kesehatan yang berwenanglah yang boleh mendapatkan dan mengetahui informasi kesehatan pasien demi kebaikan pasien ke depannya.

5. Harus belajar lagi lebih banyak tentang materi konseling dan kesehatan lainnya (:P)
    Nah, yang ini wajib hukumnya. Sebab ketika kita berhadapan dengan pasien banyak pertanyaan-pertanyaan tak terduga dari pasien. Apalagi kalo yang namanya penyakit, obat, dan kesehatan semua ada pengaruhnya satu sama lain. Misalnya pasien juga sering tanya bagaimana cara diet dan olahraga yang baik, dan makanan apa saja yang menjadi pantangan bagi pasien. Bahkan ada juga pasien yang bertanya tentang produk kesehatan non obat yang sering booming di masyarakat. Nah loh. Banyak belajar dan banyak membaca hal-hal update di masyarakat juga penting :D


"Semua pekerjaan pasti mulia yang penting adalah ikhlas dalam melakukan.
Melihat senyum pasien saja sudah sangat senang :)"--Anonim

Indeks Glikemik Makanan


(sumber gambar google)

Pasien diabetes melitus harus selalu menjaga pola makan termasuk jenis makanan dan nutrisi yang dikandungnya. Glukosa menjadi salah satu nutrisi yang perlu dikontrol dalam asupan makanan pasien diabetes. Berbicara mengenai glukosa, makanan-makanan berkarbohidrat memiliki jumlah kandungan glukosa yang berbeda-beda. Efek makanan berkarbohidrat tersebut terhadap peningkatan kadar glukosa darah pun berbeda-beda. Salah satu cara untuk mengelompokkannya adalah dengan menggunakan indeks glikemik. 

Apa itu indeks glikemik ?

Indeks glikemik dapat digunakan sebagai tolak ukur untuk mengetahui seberapa besar makanan yang berkarbohidrat tersebut mempengaruhi atau meningkatkan glukosa darah. Ada tiga pengelompokan indeks glikemik yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Indeks glikemik rendah nilainya <=55, indeks glikemik sedang berkisar 56-69, dan indeks glikemik tinggi lebih dari 70. Makanan yang mengandung indeks glikemik tinggi akan mampu meningkatkan glukosa darah lebih tinggi dibandingkan makanan dengan indeks glikemik rendah dan sedang, Nah makanan apa saja ya yang termasuk indeks glikemik rendah, sedang atau tinggi ?

1. Indeks glikemik rendah
    Contohnya adalah kentang, jagung, oatmeal, roti gandum, sebagian besar sayuran dan buah-buahan yang tidak mengandung karbohidrat seperti apel, wortel, buncis.

2. Indeks glikemik sedang
    Contoh makanan dengan indeks glikemik sedang yaitu nasi, beras merah, gandum utuh

3. Indeks glikemik tinggi
    Contohnya yaitu oatmeal instan, pasta, makaroni, beberapa buah seperti labu kuning, melon, dan nanas.

Selain jenis makanan, beberapa faktor lain juga dapat mempengaruhi nilai indeks glikemik makanan seperti cara pengolahan dan tingkat kematangan (pada buah-buahan). Konsumsi buah segar akan lebih baik dibandingkan jus buah atau buah kalengan karena adanya tambahan pemanis /sukrosa di dalamnya. Selain itu buah yang usianya lebih matang akan memiliki indeks glikemik yang relatif lebih tinggi. 

Tapi sebenarnya untuk menjaga dan mengontrol asupan glukosa tidak hanya untuk penderita diabetes lho :). Mungkin mimin akan share informasi lain terkait dengan ini di lain waktu ..sampai jumpa :D


Sumber referensi :

American Diabetes Assosiation
http://www.diabetes.org/food-and-fitness/food/what-can-i-eat/understanding-carbohydrates/glycemic-index-and-diabetes.html?referrer=https://www.google.co.id/

Senin, 14 Desember 2015

Terapi Pendukung Gout Arthritis

  

(sumber gambar : myhealth.alberta.ca)
  
      Pasien gout arthritis harus selalu waspada dan mengontrol kondisi tubuhnya. Kadar asam urat dalam darah yang meningkat dan menumpuk pada persendian akan menimbulkan nyeri pada pasien gout. Selain terapi dengan obat, pasien juga perlu menjaga diet dan life style sehingga kadar asam urat ttap terkontrol. Apa saja ya terapi pendukung yang dapat dilakukan oleh pasien ?

1.        Menurunkan berat badan bagi penderita yang mengalami obesitas

2.       Menghindari makanan dan minuman tertentu yang dapat menjadi pencetus gout
         Makanan dan minuman yang mengandung purin tinggi haruslah dihindari oleh penderita gout arthritis. Beberapa contohnya yaitu daging, ikan / seafood , dan protein-protein hewani lainnya. Sementara itu produk atau olahan dari susu yang rendah lemak baik untuk dikonsumsi. Susu rendah lemak memiliki efek menurunkan asam urat

3.      Mengurangi konsumsi alkohol (bagi peminum alkohol)
         Berdasarkan penelitian, konsumsi beer 2 gelas atau lebih per hari akan meninkatkan resiko serangan gout 2,5 kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak mengkonsumsi alkohol. Salah satu jenis minuman beralkohol ini yaitu beer ternyata lebih berpengaruh dalam meningkatkan kadar asam urat dalam darah dibandingkan alkohol jenis lain. Beer mengandung banyak purin yang sebagian besar berupa guanosin. Guanosin lebih mudah diserap tubuh dibandingkan nucleotide lain sehingga sangat mudah untuk meningkatkan kadar asam urat dalam darah. Berbeda dengan beer, wine ternyata justru tidak mempengaruhi kadar asam urat dalam darah (Choi, dkk., 2004).

4.      Meningkatkan asupan cairan
           Pasien arthritis gout sangat dianjurkan untuk memperbanyak asupan cairan dan jangan sampai mengalami dehidrasi

5.      Terapi es pada bagian tubuh yang sakit
              Terapi es pada bagian yang sakit dapat mengurangi nyeri pada pasien gout artitis. Cara ini sudah banyak diteliti efeknya oleh para ilmuwan dan terbukti secara klinis dapat digunakan sebagai terapi tambahan untuk mengurangi rasa nyeri pada pasien (Schlesinger N., 2006)


Daftar Pustaka 

Anonim, 2006, Pharmaceutical Care Untuk Pasien Penyakit Arthritis Rematik, Ditjen Bina                           Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Jakarta.

Choi, H.K., Atkinson, K.,  Karlson, E.W., Willett, W., dan Curhan,G., 2004, Alcohol intake and risk            of incident gout in men: a prospective study, The Lancet, Vol 363, 1277-1281.

Choi, H.K., Atkinson, K.,  Karlson, E.W., Willett, W., dan Curhan,G., 2004, Purin-Rich Foods, Dairy           Protein and Intake, and The Risk of Gout in Men, The New England Journal Medicine, Vol                 350, 1093-1103.

Schlesinger N., 2006, Response to Application of Ice May Help Differentiate Between Gouty                      Arthritis and Other Inflammatory Arthritides, J Clin Rheumatol, 12 (6), 275-276.

Hepatitis A dan Pencegahannya


(sumber gambar : www.dreamstime.com)


Beberapa waktu lalu sempat terjadi wabah hepatitis A di sebuah daerah. Pasti teman-teman sebelumnya juga sudah pernah mendengar kan sekilas mengenai hepatitis A ? Kalau belum mungkin melalui tulisan ini akan saya coba sharing sedikit apa itu hepatitis A

Apa itu hepatitis A ?
Hepatitis A merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh virus. Penyakit ini dapat menular melalui faecal-oral, penularan dari penderita, dan makanan serta minuman yang terkontaminasi virus hepatitis A. Penyakit hepatitis A ini juga sangat mudah mewabah di daerah padat penduduk dan pemukiman yang kurang sehat. Resiko penyebaran penyakit ini juga dapat dipengaruhi oleh rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan gaya hidup sehat dan menjaga kesehatan lingkungan. Ada 3 fase penting perkembangan hepatitis, yaitu  fase inkubasi 15-50 hari, fase akut bisa berlangsung 2 bulan, dan fase penyembuhan. Penyakit hepatitis A tidak mengarah pada infeksi atau penyakit hati kronik tetapi perlu diwaspadai jika menyerang pada anak usia kurang dari 6 tahun. Anak kurang dari 6 tahun yang terinfeksi hepatitis A biasanya tidak menunjukkan adanya gejala (asimtomatik).


Nah bagaimana agar kita terhindar dari penularan hepatitis A ? 
Pencegahan yang dapat dilakukan agar tidak terinfeksi hepatitis A diantaranya yaitu dengan melakukan kebiasaan sehat, contohnya mencuci tangan sebelum makan, mencuci peralatan makan dengan bersih, dan meminimalkan kebiasaan makan di tempat yang kurang higienis. Selain itu upaya vaksinasi hepatitis A juga dapat dilakukan agar tubuh memiliki sistem pertahanan untuk melawan virus hepatitis A. Vaksin hepatitis A tidak hanya ditujukan untuk anak-anak. Beberapa orang juga bisa dikategorikan memerlukan vaksinasi hepatitis A, diantaranya yaitu :
1.  Anak usia 1 tahun
2.   Anak dan remaja usia 2- 18 tahun yang tinggal di daerah yang terdapat angka kejadian tinggi              hepatitis A
3.  Seseorang yang bepergian ke suatu negara atau tempat dimana masih banyak wabah hepatitis A
4.   Pasien penyakit hati kronis, misalnya pasien yang pernah menderita hepatitis B dan C
5.  Petugas medis atau orang lain yang memiliki resiko tinggi terinfeksi hepatitis A

Yuk mulai berubah untuk menjaga kesehatan tubuh dan juga lingkungan  
mulai dari hal kecil :)

     Sumber : Pharmacotherapy Handbook 9th Edition , hal 213-214 (Joseph T. Dipiro)


Apakah Hidup Akan Lebih Baik Tanpa Merokok ?

(sumber gambar : pinterest)

Beberapa perokok mungkin sudah banyak yang berpikiran untuk melakukan tindakan berhenti merokok (smoking cessation). Tapi tahukan teman-teman bahwa perokok yang mencoba untuk tidak membakar dan menghisap rokok lagi ternyata memiliki beberapa manfaat kesehatan bagi tubuhnya.

20 menit setelah berhenti merokok
Tekanan darah akan menurun mendekati level tekanan darah sebelum merokok.

 8 jam setelah berhenti merokok
Kadar karbon monoksida akan turun

24 jam setelah berhenti merokok
Resiko untuk mengalami serangan jantung akan berkurang

2 - 3 bulan setelah berhenti merokok
Fungsi dan sirkulasi paru akan mengalami perbaikan sampai 30 %

1 – 9 bulan setelah berhenti merokok
Gejala batuk-batuk, lelah, dan sesak napas akan berkurang

1 tahun setelah berhenti merokok
Resiko mengalami penyakit jantung koroner menjadi ½ kali resiko yang akan dialami perokok

5 tahun setelah berhenti merokok
Resiko mengalamis stroke berkurang

10 tahun setelah berhenti merokok
Resiko terkena kanker ikut menurun dibandingkan orang yang merokok

15 tahun  setelah berhenti merokok
Resiko mengalami penyakit jantung koroner tidak jauh berbeda dengan orang yang tidak merokok


~~~~~~~~~~~~~~QUIT SMOKING BEFORE SMOKING QUITS YOU~~~~~~~~~~~~~~


Sumber 
Handbook of Non Prescription Drugs Edisi 16 hal. 896

Jumat, 04 Desember 2015

Yoghurt Untuk Kesehatan Kulit



(sumber gambar : listrcrux.com)

Yoghurt sudah banyak digunakan dan dirasakan manfaatnya untuk menjaga kesehatan pencernaan. Namun saat ini yoghurt juga sudah banyak diteliti dan digunakan dalam berbagai kosmetik dan produk kecantikan. Sebelum mengulas lebih dalam mengenai manfaat yoghurt untuk kesehatan kulit, teman-teman sudah familiar kan dengan yoghurt ? Yoghurt termasuk produk hasil fermentasi susu yang banyak diminati masyarakat hampir di seluruh dunia. Untuk memproduksi yoghurt dibutuhkan bakteri asam laktat diantaranya Lactobacillus bulgarius dan Streptococcus termophillus. Bakteri ini akan tumbuh dengan baik pada kondisi yang sesuai dan menghasilkan asam laktat sebagai salah satu kandungan hasil fermentasinya. Menurut definisi dari FDA (Food and Drug Administration) Amerika Serikat, yoghurt yang baik seharusnya mengandung 3,5 % milk fat dan 8,25 % MSNF (Milk Solid Non Fat), dan asam laktat tidak kurang dari 0,9 %.

Dr. Bowe, seorang dermatologist memaparkan bagaimana yoghurt bisa memberikan manfaat untuk kesehatan kulit. Ternyata bakteri asam laktat pada yoghurt memiliki beberapa peran dalam kesehatan kulit, diantaranya :
1. Bakteri baik dari yoghurt dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh di kulit sehingga mencegah
    berkembangnya bakteri jahat di kulit yang dapat menyebabkan atau memperparah jerawat
2. Hasil fermentasi bakteri asam laktat di yoghurt memiliki sifat antibakteri. 
    Kerja ini pada akhirnya hampir sama dengan sebelumnya yaitu menghambat pertumbuhan bakteri 
    jahat yang dapat memperparah jerawat dan inflamasi kulit.
3. Efek menenangkan pada kulit. 
    Probiotik dari yoghurt yang bersentuhan dengan sel-sel di kulit akan memberikan sinyal-sinyal
    positif sehingga kulit tidak akan menganggap probiotik tersebut sebagai bakteri jahat yang harus 
    dihancurkan dengan sistem kekebalan tubuh.

Selain itu ternyata beberapa ilmuwan telah meneliti kandungan yoghurt yang dianggap bermanfaat bagi kesehatan kulit, diantaranya yaitu :

1. Asam hialuronat
Asam hialuronat berperan dalam menghidrasi kulit dan menjaga kelembapan kulit. Berdasarkan penelitian dari Pacivic et. al. (2011), penggunaan selama 60 hari asam hialuronat 0,1 % pada 76 wanita usia 30-60 tahun dapat memperbaiki kelembapan dan elastisitas kulit. Asam hialuronat juga berperan dalam mempercepat penyembuhan luka di kulit. Asam hialuronat biasanya terdapat dalam produk hasil fermentasi oleh bakteri golongan Streptococcus. Namun dengan adanya teknologi rekombinan, bakteri jenis lain juga dapat memproduksi zat ini.

2. Sphyngomyelinase
Sphyngomyelinasi merupakan enzim yang berperan dalam perkembangan sel lapisan lemak kulit di stratum corneum. Oleh karna itu enzim ini juga berperan dalam menjaga pertahanan kulit. Menurut penelitian Di Marzio et. al. (2003), penggunaan selama 2 minggu pada 11 pasien dapat bermanfaat dalam mengurangi gejala gangguan kulit seperti kemerahan, kulit bersisik, dan gatal-gatal.

3. Asam Asetat
Asam asetat hampir diproduksi oleh berbagai macam probiotik. Asam asetat bersifat antimikroba terhadap bebrapa jenis bakteri penyeebab penyakit seperti Pseudomonas aeruginosa. Asam asetat 3% yang diuji secara in vitro selama 15 menit sudah dapat menghambat berkembangbiaknya bakteri Pseudomonas.

4.Asam Laktat
Selain asam asetat, asam laktat juga merupakan kandungan yang banyak terdapat dalam yoghurt dan produk fermentasi susu lainnya. Lactobacillus dapat menghasilkan asam laktat sekitar 50-85 % dalam produk fermentasinya. Meskipun demikian asam laktat sebenarnya juga dapat dibuat secara sintetik. Asam laktat telah banyak diketahui manfaatnya bagi kulit. Asam laktat memiliki sifat antibakteri terhadap Staphylococcus aureus yang juga menimbulkan masalah pada kulit. Asam laktat telah banyak digunakan secara luas sebagai exfoliator dan chemical peeling agent dalam produk kosmetik dan kecantikan yang biasanya digunakan untuk mengangkat sel kulit mati sehingga terjadi peremajaan kulit. Asam laktat juga bermanfaat dalam menjaga kelembapan kulit dan melunakkan kulit terutama pada tipe kulit kering.

Selain beberapa kandungan tersebut, mungkin masih banyak kandungan lain dari yoghurt yang bermanfaat bagi kesehatan kulit. Namun bukan berarti dengan penggunaan yoghurt atau produk lain yang mengandung yoghurt semata-mata dapat menjaga kulit tetap sehat. Kesehatan kulit juga dapat dipengaruhi faktor lain seperti asupan makanan dan nutrisi, paparan lingkungan, aktivitas, dan tentunya kebiasaan dalam merawat kulit. :)


References :

AAD, 2015, Could Probiotics be Next Big Thing in Acne and Rosacea Treatments ?, https://www.aad.org/stories-and-news/news-releases/could-probiotics-be-the-next-big-thing-in-acne-and-rosacea-treatments

FDA, 2013,  Yogurt. 21 CFR 131.200, Code of Federal Regulations, U.S. Dept. of Health and Human Services, Washington, DC

Lew, L.C., dan Liong L.C., 2013, Bioactives from Probiotics for Dermal Health : Functions and Benefits, Journal of Applied Microbiology, 114, 1241-1253.

Weerathilake, W.A.D.V., Rasika, D.M.D., Ruwanmali, J.K.U., Munasinghe, M.A.D.D., 2014, The Evaluation, Processing, Varieties, and Health Benefits of Yoghurt, International Journal of Scientific and Research Publications, 4(4), 1-9